Pentas Ke-fana-an


Senja telah rampung. Adakah egoisme masih kita rawat? Setelah matahari memainkan pentas ke-fana-an. Bahwa semua akan tenggelam. Semua akan hilang. Semua akan lenyap. Semua akan berakhir. Mati, kepastian paling misterius itu harusnya membuat kita selalu terjaga. Di atas langit, masih ada langit. Masih adakah yang layak untuk kita sombongkan? Sahabat, bila ada yang ingin kau catatkan malam ini: kuburan itu hanya seluas badan.

Suatu waktu, setelah mengutarakan kalimat yang di atas, terjadilah percakapan antaraku dengan Sang Wiku: Syeikh Dr. Dhiyauddin Hafizahullah.

Beliau menanggapiku: “Saking besarnya anugerah di balik kematian, maka ia disembunyikan di balik peti ketakutan”.

“Ayahanda, bimbinglah kami untuk belajar tentang kematian. Sungguh, kami belum punya pemahaman”.

Beliau menanggapi: “Yang didambakan tersembunyi di balik yang tidak disukai, contoh sehat tersembunyi di balik obat yang tidak disukai, begitu juga syurga tersembunyi di balik kematian yang di benci”.

“Allaah.. Allah.. Allah.. (saya tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi)”.

Beliau menanggapi: “Kita harus banyak beramal sholeh untuk menghadapi kematian, tapi jangan bergantung padanya, karena setiap kebergantungan pada selain-Nya adalah syirik,  termasuk bergantung pada amal.

Lalu bagaimana? Allah telah memberi petunjuk dalam ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-sebenar taqwa dan jangalah kamu mati kecuali dalam keadaan BERSERAH DIRI atau taslim.[1]

Banyak orang kalau ditanya belum siap mati karena merasa belum punya banyak amal, berarti dia bergantung pada amal.

Ketahuilah berserah diri atau taslim itu adalah induk segala amal (ummul ibadah), sholat, puasa zakat haji dan lain-lain amal dhohir itu semua hanyalah serpihan atau derivat saja dari TASLIM.

Maka seorang yang telah berhasil mencapai maqom taslim atau keberserah-dirian secara total pada Allah berarti ia telah lulus sebagai hamba Allah dan telah siap dipanggil dengan panggilan “irji’ii ila robbiki rodhiyatan mardhiyah fadzhuli fi ibady fadzhuli jannaty”.


[1] QS. 3 ayat 102

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *