Generasi Pemikul Beban

Dirangkum oleh Multazam

Poin 1: Semangat Pertanggungjawaban

Ada satu zaman di mana negara kesulitan mencari orang miskin, zaman itu adalah zaman di bawah kepemimpinan seorang pemimpin muda: Umar bin Abdul Aziz.

Menjelang dia dilantik, dia berbisik kepada gurunya, “Sungguh, Aku takut kepada neraka.”

Kalimat itulah yang membuat dia selalu memiliki energi untuk melakukan yang terbaik untuk rakyatnya. Kalimat itulah yang melahirkan ruhul mas-uliyyah (semangat pertanggungjawaban).

Umar bin Abdul Aziz memulai dari akhir, dari kesadaran bahwa perjalanan akan berakhir kepada kematian, dan setelah itu hanya dua kemungkinan surga atau neraka.

Mengapa ungkapannya “Aku takut kepada neraka” bukan “Aku berharap surga.” Apa korelasinya dengan kepemimpinan?

Maknanya adalah, kita boleh tidak memiliki satu kemenonjolan dalam prestasi, tapi jangan sampai kita berbuat kesalahan.

Tapi, kayakinan semacam ini yang mendorong Umar bin Abdul Aziz untuk melakukan yang terbaik dan mendapatkan pencapaian yang agung: kesulitan mencari orang miskin.

Padahal ia mempin hanya dalam tempo dua setengah tahun.

Semangat itu juga yang tercermin dalam ungkapan Khalifah Abu Bakar ra ketika memerangi orang yang murtad, “Apakah Islam ini akan berkurang sedangkan aku masih hidup?”.

Sekali lagi, yang membuat mereka selau punya energi untuk berkontriubsi kepada ummat ini adalah semangat pertanggungjawaban, bukan rebutan kekuasaan.

Semangat yang kita bawa adalah semangat para pemikul beban, sebab sebesar apa beban yang kita pikul sebesar itu kelak tempat kita dalam surga.

Inilah di antara makna perkataan Rasulullah saw: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menggunakannya (untuk memikul beban-beban keummatan).

Karena semangat pertanggung jawaban kita adalah kepada Allah, maka kita akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Dan karena itu pula, kita akan selalu memperhatikan akibat dari setiap tindakan yang kita ambil.

Maka ketika Umar bin Abdul Aziz hendak menghembuskan nafas terakhirnya, orang-orang mendengar ia mengucapkan satu ayat dalam Al-Qur’an “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qoshash: 83)

Poin 2: Menentukan Peran yang Tepat

Setelah kita memiliki semangat pertanggungjawaban, kita harus menentukan peran.

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam menentukan peran: kebutuhan zaman dan kemampuan diri.

Kita harus membaca apa yang dibutuhkan oleh zaman ini, sekaligus membaca kemampuan yang Allah berikan di dalam diri kita. Sehingga kita tahu persis apa peran yang akan kita mainkan.

Perhatikanlah empat ulama mazhab, merekalah yang menentukan cara kita mendefinisikan agama. Setelah empat khulafurrasyidin, merekalah yang paling besar pengaruhnya bagi kita dalam berIslam.

Karena mereka telah mengambil peran yang tepat.

Mereka membaca kebutuhzan zaman, dan melihat kemampuan diri.

Ketika itu, kondisi politik berlangsung dengan baik, ekonomi berjalan baik, rakyat relatif sejahtera. Karena itu mereka dengan sadar tidak melibatkan diri dalam politik.

Akan tetapi, Islam sedang berkembang dengan pesat ke berbagai penjuru, melintasi berbagai budaya. Multi kultur.
Yang dibutuhkan saat itu adalah cara menerjemahkan teks qur’an dan sunnah yang sesuai dan bisa dpalikasikan di setiap tempat yang telah disentuh Islam.

Maka mereka mengambil peran sebagai “pendefinisi” teks-teks Qur’an Sunnah, sehingga ummat bisa berIslam dengan baik dan benar.

Bagaimana dengan zaman kita ini?

Untuk memahami kebutuhan zaman, kita mesti memapu membaca arah sejarah. Kemana sejarah ini sedang berjalan.

Kondisi kita saat ini bukan hanya mengalami kekacauan nasional, tapi juga kekacauan global. Di saat yang sama, pemimpin negara-negara digdaya menunjukkan style yang kuat dalam memimpin. Seperti di Rusia, Korea dan Amerika.

Lalu di mana posisi kita dalam geopolitik global? Berdiskusilah.

Poin 3: Cara Melakukan Peran Terbaik

Saat ini kita berada pada zaman denga tantangan yang luar biasa. Karena itu kita tidak bisa menggunakan cara berfikir yang biasa.

Kita mesti melakukan banyak terobosan dan inovasi.

Dua syarat inovasi adalah rasa penasaran dan keberanian.

Di dalam sejarah kemenangan-kemenangan para pemimpin pasukan Islam, kita sering kali melihat inovasi-inovasi mereka yang tidak terbaca oleh musuh.

Inovasi-inovasi inilaah yang kemudian membuat mereka seringkali menang dalam pertempuran, meski pun dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit.

Saya telah membaca buku-buku tentang inovasi, dan Saya menyimpulkan bahwa inovasi bukan murni produk kecerdasan, tapi rasa penasaran dan keberanian.

Poin 4: Sukses adalah Pekerjaan Ilahi

Allah telah menetapkan takdir kita. Akan tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana takdir itu, sebab itulah kita berusaha menejemput takdir kita masing-masing.

Seperti ketika Antum hendak menikah, antum bisa suka sama seseorang, atau seseorang bisa suka sama antum, tapi belum tentu ia menjadi jodoh yang ditakdirkan untuk antum.

Dan karena kita tidak tahu, maka kita berusaha menjemput takdir itu. Dan karena kita tidak tahu, kita juga menyiapkan sesuatu bila dia tidak menjadi takdir kita.

Dalam hal ini, ada satu do’a yang Saya harapkan antum membacanya setiap hari, “Ya Allah, jadikanlah keingiinanku, keinginan akhirat.”

Kita bisa berencana, berikhtiar, tapi Allah yang berkuasa menentukan takdir kita.

Kembali kepada Umar bin Abdul Aziz, “Jika tak bisa menciptakan prestasi, minimal jangan melakukan kesalahan.”

__
Dirangkum dari Taujih Ustadz Anis Matta, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *