Perjalanan Ke Dalam Bukan Ke Luar

Akhirnya, berjuta-juta manusia modern mulai patah harapan dalam pencariannya tentang kebahagiaan. Sejumlah instrumen gagal menghadirkan kebahagiaan sejati yang dicari-cari. Harta benda, jabatan, popularitas dan sejenisnya yang digadang-gadang sebagai sumber kebahagiaan justru seringkali menjadi pemicu membaranya neraka dalam kehidupan. Walau pun semua hal itu bisa memberikan kebahagiaan, tak lebih dari sebuah kesemuan.

Kebahagiaan, setelah gagal ditemukan dalam tumpukan uang, akhirnya manusia mulai beralih mencarinya ke taman-taman bunga yang indah. Sayangnya, tak kunjung kebahagiaan menyapanya.

Bahkan, para agamawan pun bergegas ke masjid-masjid dan musholla mencari kebahagiaan, tapi masih tetap gagal. Sholat, yang kata Allah “..dapat mencegah dari kemungkaran,” gagal dibuktikan oleh manusia yang mengaku agamawan. Mereka turun dari masjid, masih dengan hati yang hampa dan bimbang yang disertai hasrat untuk melakukan kemungkaran.

Jadi, dimanakah kebahagiaan itu dapat ditemukan?

“Jika perhatianmu habis untuk bentuk-bentuk maka engkau sedang melakukan pemberhalaan kepada benda,” Kata Mawlana Rumi, “maka abaikanlah bentuk dan carilah makna!” lanjutnya.

O Sahabat…

Walau ke seluruh penjuru dunia kaucari kebahagiaan, tak akan kautemukan. Bukan karena jauhnya, tapi karena ia sangat dekat. “dan pada dirimu sendiri, apakah engkau tidak melihat?”

O Sahabat…

Benar. Benar. Benar! Perjalanan mencari kebahagiaan bukan perjalanan keluar, tapi perjalanan ke dalam, ke dalam diri sendiri. Karena pada segumpal daging bernama “hati”, disanalah kebahagiaan bermetamorfosis. Maka sebanyak apa pun harta, setinggi apa pun jabatan, setersohor apa pun seseorang, ia tidak akan menemukan kebahagiaan jika ia lupa pada hatinya.

Apakah tugas hati? Tugasnya adalah memaknai. Memaknai apa saja yang terindra. Hati yang sehat sibuk mencari makna di balik benda, perhatiannya terfokus pada apa yang tak tampak dari yang tampak.

Hati, adalah rahasia mengapa Ibrahim as merasa sejuk di tengah kobaran api yang tampak. Hati, adalah rahasia mengapa Musa as dapat berjalan di lautan yang tampak. Hati, adalah rahasia mengapa kepalan tanah dapat berubah menjadi burung hidup di tangan Isa as. Dan hati, adalah rahasia dari semua keajaiban, kebahagiaan, dan kegembiraan raya yang terabadikan di sepanjang hidup manusia yang telah lalu, kini dan nanti.

Lalu, bolehlah semua jenis keajaiban dan kebahagiaan itu kita rangkum dalam satu kata, “surga”.

Jadi, untuk dapat menempati surga, kita hanya cukup berbekal segenap tekad untuk bersafar ke dalam hati kita sendiri. Dan ketika sampai, mulailah untuk menikmati segala hal yang dibuka Allah untuk kita. Jangan heran, jika api berubah menjadi air, panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, amarah menjadi kasih, dan segala hal tampak membuat kita bahagia. Benar-benar bahagia. Persis seperti di surga.

Adakah ini hanya bualan? Tentu tidak. “Seseorang tak akan mengerti,” kata seorang Bijak, “hingga ia merasakannya sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *