Warga Gelar Pertemuan Tolak Extreme Bar di Belitung

Warga Lingkungan Pagar Alam, ‎Kelurahan Tanjungpendam, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung khususnya RT 09 menyatakan sikap menolak keberadaan Extreme Bar di wilayah mereka.

Pernyataan sikap tersebut disepakati dalam pertemuan yang diadakan di Warkop Iwan yang terletak di Jalan Pattimura tidak jauh dari lokasi tempat hiburan itu, Senin (5/11) malam.

Sikap penolakan dilontarkan dengan dua alasan utama yakni terkait belum dimilikinya ijin dari pihak pengelola serta dampak yang akan ditimbulkan jika seandainya Extreme Bar beroperasi.

“Kami mengundang warga mulai dari RT 08 sampai 14 serta perwakilan Organisasi Kepemudaan (OKP) untuk berusaha mengetahui arah dari Extreme Bar ini seperti apa. Karena mereka sudah menggelar syukuran pada Senin (5/11) sore,” ujar Artian Ramadhan selaku perwakilan warga RT 09 kepada posbelitung.

‎Ia menuturkan sebelumnya pihak Kelurahan Tanjungpendam sudah melakukan pertemuan antara warga terdampak dengan pengelola. Namun dirinya mengklaim pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil.

Menurutnya pertemuan yang juga dihadiri oleh Kasat Intelkam Polres Belitung AKP M Ridwan serta Lurah Tanjungpendam Vita Widiastuti itu ‎bertujuan meluruskan kabar miring dan menegaskan bahwa sikap warga RT 09 tetap menolak keberadaan Extreme Bar.

“Kami warga RT 09 tetap menolak dengan berdirinya Extreme Bar, lainnya tidak ada tidak terkait isu politik ataupun pemilu. Memang kami murni menolak berdasarkan perda, perbup maupun permen,” tegasnya.

Artian mengatakan hasil dari pertemuan tersebut perwakilan warga, ketua RT, RW, Kaling serta tokoh agama membubuhkan tanda tangan bukti penolakan. Kemudian, mereka akan meminta audensi dengan Bupati Belitung terkait penolakan tersebut.

‎Menurutnya melalui audensi tersebut mereka akan menyampaikan keresahan yang dialami warga terdampak serta mendengar sikap dari Bupati Belitung agar masalah itu tidak berlarut-larut.

Artian mengatakan bahwa pihak Extreme Bar hingga saat ini belum mengantongi ijin terkait usaha bar dan live musik yang akan dijalankan. Sebab, tanda tangan yang diminta oleh pengelola terhadap warga diklaim tidak jelas.

“Dalam pertemuan di kelurahan juga kami meminta legalitas mereka membuka cabang usaha dari Pangkalpinang ke Belitung ini mana. Itu tidak ada, semenjak saat itu kami menolak,” katanya.

Dirinya mengakui pihak pengelola sempat menjamin bahwa usaha tersebut tidak terkait dengan perempuan. Akan tetapi dalam hal ini mereka menilai dampak yang akan ditimbulkan jika usaha tersebut berjalan.

Ia membeberkan dampak yang diresahkan masyarakat itu karena mereka akan menjual minuman keras serta operasional jam malam mulai dari pukul 22.00-02.00 dini hari.

“Jelas warga menolak, karena ini lingkungan kami,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan (Kaling) Pagar Alam‎, Kelurahan Tanjungpendam Heri menegaskan bahwa keputusan murni berada di tangan warga.

Menurut Heri, dirinya tidak bisa berbuat banyak karena hingga saat ini warga sekitar sudah menyatakan sikap penolakan.

“Saya tidak akan banyak komentar karena semua keputusan ada di warga. Kalau warga tidak menyetujui, maka saya pun juga sama,” katanya.

Ia mengatakan sebelumnya pihak pengelola sudah pernah meminta semacam rekomendasi terkait pengajuan perijinan. Namun menurutnya Kaling hanya bersifat mengetahui dan tentunya bersifat netral dalam hal ini.

“Kalau bicara akan terdampak itu sekitaran RT 8, 9 dan 10. Sampai saat ini warga masih menolak,” katanya. 

Lurah Tanjungpendam Vita Widiastuti ‎membenarkan bahwa pihaknya telah menggelar dua kali pertemuan antara warga dengan pihak pengelola Extreme bar.

Menurutnya pada pertemuan pertama tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Sehingga dirinya menginisiasi pertemuan kedua.

“Jadi pada pertemuan kedua itu warga telah sepakat untuk menolak pembangunan ataupun pembukaan Extreme Bar ini,” ujarnya saat hadir dalam pertemuan yang diadakan warga.

Ia mengatakan bahwa hingga saat ini dirinya belum menerima pengajuan apapun dari pihak pengelola baik terkait proses perijinan secara resmi.

Bahkan dirinya belum mengetahui siapa yang bisa dihubungi dari perwakilan pengelola untuk berkoordinasi.

“Karena kami hanya tahu kalau itu kediaman Fendy Haryono, jadi apakah mereka sewa atau gimana kami belum tahu. Apakah mereka lapor ke RT gimana, saya juga belum jelas,” katanya. (N1)

Proses Pengajuan Ijin

Amen selaku pengelola Extreme Bar mengakui bahwa pihaknya masih dalam proses pengajuan perijinan terkait usaha tersebut.

Namun dalam perjalanan, pihaknya terkendala karena adanya penolakan dari warga setempat.

Ia juga mengklarifikasi terkait kabar bahwa Extreme Bar melakukan launching. Menurutnya kegiatan pada Senin (5/11) sore merupakan kegiatan silaturahmi kepada warga setempat untuk mengetahui situasi pro dan kontra.

“Jadi itu bukan launching tapi silaturahmi kepada warga. Kami paham kalau di sini kami pendatang, tapi bukan mencari musuh justru murni mencari rezeki di Belitung sekaligus membuka lapangan kerja juga,” katanya.

Lalu, terkait dampak yang diresahkan warga dirinya tetap akan berupaya menjaga situasi kamtibmas melalui koordinasi dengan aparat hukum dan menyediakan petugas keamanan.

Berbicara kebisingan, kata dia, mereka sudah memasang peredam di dalam ruangan live musik disk jokey (DJ) agar suara dentuman tidak keluar.

“Kalau ada kabar yang bahwa Extreme Bar itu tempat maksiat itu salah. Kami murni usaha di bidang hiburan sebagai penunjang pariwisata di Belitung,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Amen memohon kepada warga setempat memberikan kesempatan ‎untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Belitung.

Terkait, permintaan warga meminta audensi kepada Bupati Belitung dirinya menyatakan siap hadir.

“Sebelumnya kami memang sudah berkordinasi dengan bupati meminta ijin dan petunjuk untuk membuka usaha ini. Tanggapan beliau bagus dan merasa terbantu untuk pariwisata,” katanya. (N1)



Artikel ini telah tayang di posbelitung.co dengan judul Warga Gelar Pertemuan Tolak Extreme Bar di Belitung, http://belitung.tribunnews.com/2018/11/06/warga-gelar-pertemuan-tolak-extreme-bar-di-belitung?page=4.
Penulis: Dede Suhendar
Editor: khamelia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *